TEORI BEHAVIORISTIK IVAN PAVLOV /LisanaSh
TEORI BEHAVIORISTIK IVAN PAVLOV
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ivan Pavlov adalah seorang
Fisiologi,Psikologi, dan Dokter rusia. Ia dilahirkan pada tanggal 14 September
1849 di Rjasan sebuah desa kecil di Rusia Tengah. Pavlov adalah seorang ilmuan
yang membaktikan dirinya untuknpenelitian. Ia memandang ilmu pengetahuan
sebagai saran belajar tentang berbagai masalah dunia dan masalah manusia.Ivan
Pavlov salah satu tokoh dalam menciptakan belajar classical conditioning dan ia
dikenal sebagai tokoh behaviorisme.
Teori Classical Conditioning yang
merupakan bagian dari teori Behaviorisme mengatakan bahwa peniruan sangat
penting dalam mempelajari bahasa. Teori ini juga mengatakan bahwa mempelajari
bahasa berhubungan dengan pembentukan hubungan antara kegiatan stimulus-respon
dengan proses penguatannya. Proses penguatan ini diperkuat oleh suatu situasi
yang dikondisikan, yang dilakukan secara berulang-ulang. Sementara itu, karena
rangsangan dari dalam dan luar mempengaruhi proses pembelajaran, anak-anak akan
merespon dengan mengatakan sesuatu. Ketika responnya benar, maka anak tersebut
akan mendapat penguatan dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Saat proses ini
terjadi berulang-ulang, lama kelamaan anak akan menguasai percakapan.
1.2.
Rumusan masalah
1.2.1.
Jelaskan tentang struktrur kepribadian?
1.2.2.
Jelaskan tentang dinamika kepribadian?
1.2.3. Jelaskan tentang perkembangan kepribadian?
1.2.4. Jelaskan aplikasi teori behavioristik?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui struktrur kepribadian
1.3.2 Untuk mengetahui dinamika kepribadian
1.3.3 Untuk mengetahui perkembangan kepribadian
1.3.4 Untuk mengetahui aplikasi teori behavioristik
BAB II
TINJAUAN
PUSATAKA
TEORI
BEHAVIORISTIK
Teori
belajar gagasan Ivan Pavlov disebut dengan Teori pembiasaan klasik (classical
conditioning) . Kata classical yang mengawali nama teori ini semata-mata
dipakai untuk menghargai karya Pavlov yang dianggap paling dahulu di bidang
conditioning (upaya pembiasaan) dan untuk membedakannya dari teori conditioning
lainnya (Gleitmen,1986). Selanjutnya, mungkin karena fungsinya, teori pavlov
ini juga dapat disebut respondent conditioning (pembiasaan yang dituntut).
Teori ini sering disebut juga contemporary behaviorist atau juga disebut S-R psychologists
yang berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran
(reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Jadi, tingkah laku
belajar mendapat jalinan yang erat antara reaksi behavioral dengan
stimulasinya. Guru yang menganut pandangan ini bahwa masa lalu dan masa
sekarang dan segenap tingkah laku merupakan reaksi terhadap lingkungan mereka
merupakan hasil belajar. Teori ini menganalisis kejadian tingkah laku dengan
mempelajari latar belakang penguatan (reinforcement) terhadap tingkah laku
tersebut.
2.1
STRUKTUR KEPRIBADIAN IVAN PAVLOV
Struktur pavlov terbagi
atas dua bagian yaitu:
·
Tingkah laku Responden (Responden Behavior):
Respon yang dihasilkan organisme untuk menjawab stimulus secara spesifik
berdasarkan respon yang diberikan, seperti mengeluarkan air liur ketika melihat
makanan.
·
Tingkah laku Operan (Operant Behavior):
Respon yang dimunculkan organisme tanpa adanya stimulus spesifik yang langsung
memaksa terjadinya respon itu. Organisme dihadapkan kepada pilihan-pilihan
respon mana yang akan dipakai untuk menanggapi suatu stimulus.
Jadi, struktur kepribadian dari
Pavlov ini tergantung kepada respon atau stimulus yang diberikan oleh
seseorang, semakin besar stimulus atau penguatan yang diberikan, maka respon
yang diterima juga akan semakin kuat.
2.2
DINAMIKA DAN PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Pavlov
yakin bahwa kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan tingkah laku
dalam hubungan yang terus menerus dengan lingkungan nya. Cara yang efektif
untuk mengubah dan mengontrol tingkah laku adalah penguatan, maksudnya dengan
diberikan penguatan-penguatan yang positif, maka tingkah laku seseorang akan
bisa berubah dan terkontrol dengan baik. Strategi untuk mengubah tingkah laku
menurut pandangan Pavlov itu pada dasarnya ada dua yaitu :
1. Conditioning
Clasik, disebut juga dengan
conditioning responden karena tingkah laku dipelajari dengan memanfaatkan
hubungan stimulus respon yang bersifat refleks.
2. Conditioning
Operan, conditioning operan tidak
tergantung kepada tingkah laku otomatis atau refleks sehingga jauh lebih
fleksibel dibandingkan dengan conditioning clasik.
2.3 PENDAPAT PAVLOV TENTANG BELAJAR DAN PENDIDIKAN
Dalam
penjelasan terdahulu telah dijelaskan bahwa Pavlov adalah seorang ilmuwan yang
membaktikan dirinya untuk penelitian. Ia memandang ilmu pengetahuan sebagai
sarana belajar tentang berbagai masalah dunia dan masalah dan masalah manusia.
Peranan ilmuwan menurutnya antara lain membuka rahasia alam sehingga dapat
memahami hukum-hukum yang ada pada alam. Di samping itu ilmuwan juga harus
mencoba bagaimana manusia itu belajar dan tidak bertanya bagaimana mestinya
manusia belajar.
Teori belajar classical
conditioning mengaplikasikan pentingnya mengkondisi stimulasi agar terjadi
respon. Dengan demikian, pengontrolan dan perlakuan stimulus jauh lebih penting
daripada pengontrolan respon. Konsep ini mengisyaratkan bahwa proses belajar
lebih mengutamakan faktor lingkungan daripada motivasi internal.
Pandangan Pavlov tentang belajar,
ia mengutamakan perilaku dan perubahan tingkah laku organisme melalui hubungan
stimulus respon (S-R). Dengan demikian, belajar hendaknya mengkondisi stimulus
agar bisa menimbulkan respon. Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang
terus-menerus yang timbul sebagai akibat dari persyaratan kondisi.
Dalam pendidikan, prinsip Pavlov
sulit untuk diaplikasikan dalam pendidikan di kelas. Sebab yang menjadi
pertanyaannya adalah apakah percobaannya terhadap hewan akan terjadi pula pada
manusia? Pertanyaan inilah yang sering dilontarkan terhadap teori classical
conditioning. Oleh sebab itu, walaupun paradigma classical conditioning dari
Pavlov telah diperluas berdasarkan penelitian-penelitian psikologi, namun
persoalan penerapannya dalam praktek masih menimbulkan pertanyaan. Banyak
latihan-latihan. Pendidikan berdasarkan teori Pavlov baik pada masa lampau
maupun masa sekarang tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Dalam praktek
pendidikan mungkin bisa kita temukan seperti lonceng berbunyi mengisyaratkan
belajar dimulai atau pelajaran berakhir.
Pertanyaan guru diikuti angkatan
tangan siswa, suatu pertanda siswa dapat menjawabnya. Kondisi-kondisi tersebut
diciptakan untuk memanggil suatu respon atau tanggapan. Ahli pendidikan lain
juga menyarankan bahwa panduan belajar dengan mengkombinasikan gambar dan
kata-kata dalam mempelajari bahasa, akan sangat berguna dalam mengajar
perbendaharaan kata-kata. Memasangkan kata-kata dalam bahasa Inggris dengan
kata-kata bahasa lainnya akan membantu para siswa dalam membuat perbendaharaan
kata dalam bahasa asing. Dalam pengertian yang lebih luas misalnya memasangkan
makna suatu konsep dengan pengalaman siswa sehari-harinya akan membantu siswa
dalam memahami konsep-konsep lainnya. Walaupun classical conditioning terms
menjadi bidang yang aktif dalam psikologi saat ini. Sebagian para ahli telah
mulai meninggalkan teori psikologi ini.
2.4
EKSPERIMEN IVAN PAVLOV
Eksperimennya
Pavlov di laboratorium pada seekor anjing. Beliau melakukan operasi kecil pada
pipi anjing itu sehingga bagian dari kelenjar liur dapat dilihat dari kulit
luarnya. Sebuah saluran kecil di pasang pada pipinya untuk mengukur aliran air
liurnya. Kondisi anjing itu terpisah dari penglihatan dan suara luar, atau
diletakkan pada panel gelas. Dengan kondisi bell dinyalakan, Anjing dapat
bergerak sedikit, tetapi tidak mengeluarkan liur. Setelah beberapa detik, bubuk
daging diberikan, anjing tersebut lapar dan memakannya. Alat perekam mencatat
pengeluaran air liur yang banyak. Prosedur ini dilakukan beberapa kali.
Kemudian bell dinyalakan tetapi bubuk daging tidak diberikan, namun anjing
tetap mengeluarkan air liur. Binatang itu telah belajar mengasosiasikan
dinyalakan bell dengan makanan. Peristiwa ini menurut Pavlov merupakan refleks
bersyarat dari adanya masalah fungsi otak, sehingga masalah yang ingin
dipecahkan oleh Pavlov dengan eksperimen itu ialah bagaimanakah refleks
bersyarat itu terbentuk.
Dari eksperimen Pavlov, menurutnya
respon dikontrol oleh pihak luar, pihak inilah yang menentukan kapan dan apa
yang akan diberikan sebagai stimulus, sebagaimana dijelaskan Agus Suryanto
tentang teori Pavlov tersebut, beliau mengatakan semua harus berobjekkan kepada
segala yang tampak oleh indera, dari luar. Peranan orang yang belajar bersifat
bersifat pasif karena untuk mengadakan respon perlu adanya suatu stimulus
tertentu. Sedangkan mengenai penguat menurut Pavlov bahwa stimulus yang tidak
terkontrol (unconditioned stimulus) mempunyai hubungan dengan penguatan.
Stimulus itu sendirilah yang menyebabkan adanya pengulangan tingkah laku dan
berfungsi sebagai penguat.
Setelah respon berkondisi tercapai, apakah yang
akan terjadi bila stimulus berkondisi diulang atau diberikan kembali tanpa
diikuti oleh stimulus tidak berkondisi? Dalam hal ini akan terjadi pelenyapan
atau padam. Dengan kata lain pelenyapan adalah tidak terjadinya respon atau
menurunnya kekuatan respon pada saat diberikan kembali stimulus berkondisi
tanpa diikuti stimulus tak berkondisi setelah terjadinya respon. Sedangkan
penyembuhan spontan adalah tindakan atau usaha nyata untuk menghalangi
terjadinya pelenyapan. Satu diantaranya ialah melalui rekondisioning atau
mengkondisikan kembali melalui pemberian kedua stimulus berkondisi secara
berpasangan.
Dari peristiwa pengkondisian klasik ini ,
merupakan dasar bentuk belajar yang sangat sederhana, sehingga banyak ahli
kejiwaan menganggap Pavlov sebagai titik permulaan tepat untuk penyelidikan
belajar. Lalu peristiwa kondisioning juga banyak terdapat pada diri manusia,
misalnya anda dapat menjadi terkondisi terhadap gambar makanan dalam berbagai
iklan yang menampilkan makanan malam dengan steak yang lezat dapat memicu
respon air liur meskipun anda mungkin tidak lapar.
§ Skema
percobaan Pavlov
Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh Ivan
Pavlov maka terlihat bahwa pentingnya mengkondisi stimulus agar terjadi respon.
Dengan demikian pengontrolan stimulus jauh lebih penting daripada pengontrolan
respon. Konsep ini mengisyaratkan bahwa proses belajar lebih mengutamakan
faktor lingkungan (eksternal)
daripada motivasi (internal).
Dalam eksperimennya yang lain, Pavlov
menggunakan anjing untuk mengetahui hubungan antara conditional stimulus (CS),
unconditioned stimulus (UCS), conditioned response (CR), dan unconditioned
response (UCS). CS adalah rangsangan yang mampu mendatangkan respons yang
dipelajari, sedangkan respons yang dipelajari itu sendiri disebut CR. Adapun
UCS berarti rangsangan yang menimbulkan respons yang tidak dipelajari, dan
respons yang tidak dipelajari itu disebut UCR.
Anjing percobaan itu mula-mula diikat
sedemikian rupa dan pada salah satu kelenjar air liurnya diberi alat penampung
cairan yang dihubungkan dengan pipa kecil (tube). Perlu diketahui bahwa sebelum
dilatih (dikenal eksperimen), secara alami anjing itu selalu mengeluarkan air
liur setiap kali mulutnya berisi makanan. Ketika, bel dibunyikan secara alami
pula anjing itu menunjukkan reaksinya yang relevan, yakni tidak mengeluarkan air
liur.
Kemudian, dilakukan eksperimen berupa latihan
pembiasaan mendengarkan bel (CS) bersama-sama dengan pemberian makanan berupa
serbuk daging (UCS). Setelah latihan yang berulang-ulang ini selesai, suara bel
tadi (CS) diperdengarkan lagi tanpa disertai makanan (UCS). Apa yang terjadi?
Ternyata anjing percobaan tadi mengeluarkan air liur juga (CR), meskipun hanya
mendengar suara bel (CS). Jadi, CS akan menghasilkan CR apabia CS dan UCS telah
berkali-kali dihadirkan bersama-sama.
Berdasarkan eksperimen di atas, semakin
jelaslah bahwa belajar adalah perubahan yang ditandai dengan adanya hubungan
antara stimulus dan respons. Jadi, prinsipnya hasil eksperimen E.L Thorndike di
muka kurang lebih sama dengan hasil eksperimen Pavlov yang memang dianggap
sebagai pendahulu dan anutan Thorndike yang behavioristik itu. Kesimpulan yang
dapat kita tarik dari hasil eksperimen pavlov ialah apabila stimulus yang
diadakan (CS) selalu disertai dengan stimulus penguat (UCS), stimulus tadi (CS)
cepat atau lambat akhirnya akan menimbulkan respons atau perubahan yang kita
kehendaki yang dalam hal ini CR.
2.5 APLIKASI TEORI BEHAVIORISTIK PAVLOV DALAM
PEMBELAJARAN
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan
teori belajar menurut Pavlov adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:
1. Mementingkan pengaruh lingkungan
2. Mementingkan bagian-bagian
3. Mementingkan peranan reaksi
4. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil
belajar melalui prosedur stimulus respon
5. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah
terbentuk sebelumnya
6. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui
latihan dan pengulangan
7. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya
perilaku yang diinginkan.
Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma
Pavlov akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga
tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh
guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti
contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran
disusun secara hierarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks. Tujuan
pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu
keterampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur
dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan
digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang
diharapkan dari penerapan teori belajar Pavlov ini adalah tebentuknya suatu
perilaku yang diinginkan.Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif
dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau
penilaian didasari perilaku yang tampak. Kritik terhadap teori belajar Pavlov
adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru, bersifaat mekanistik dan
hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Kritik ini sangat
tidak berdasar karena penggunaan teori Pavlov mempunyai persyaratan tertentu
sesuai dengan ciri yang dimunculkannya. Tidak setiap mata pelajaran bisa
memakai metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan
kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristic.
Metode Pavlov ini sangat cocok untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan
praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan,
spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya:
percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang,
olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih
anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi
dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan
langsung seperti diberi permen atau pujian.
Penerapan teori belajar Pavlov yang salah dalam suatu situasi
pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat
tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter,
komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus
dipelajari murid. Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat
dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan dengan
tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai
cara belajar yang efekti
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Ivan Pavlov adalah seorang
Fisiologi,Psikologi, dan Dokter rusia. Ia dilahirkan pada tanggal 14 September
1849 di Rjasan sebuah desa kecil di Rusia Tengah. Pavlov adalah seorang ilmuan
yang membaktikan dirinya untuknpenelitian. Ia memandang ilmu pengetahuan
sebagai saran belajar tentang berbagai masalah dunia dan masalah manusia.Ivan
Pavlov salah satu tokoh dalam menciptakan belajar classical conditioning dan ia
dikenal sebagai tokoh behaviorisme.
Struktur pavlov
terbagi atas dua bagian yaitu:
·
Tingkah laku Responden (Responden Behavior):
Respon yang dihasilkan organisme untuk menjawab stimulus secara spesifik
berdasarkan respon yang diberikan, seperti mengeluarkan air liur ketika melihat
makanan.
·
Tingkah laku Operan (Operant Behavior):
Respon yang dimunculkan organisme tanpa adanya stimulus spesifik yang langsung
memaksa terjadinya respon itu. Organisme dihadapkan kepada pilihan-pilihan
respon mana yang akan dipakai untuk menanggapi suatu stimulus.
Cara yang
efektif untuk mengubah dan mengontrol tingkah laku adalah penguatan, maksudnya
dengan diberikan penguatan-penguatan yang positif, maka tingkah laku seseorang
akan bisa berubah dan terkontrol dengan baik. Strategi untuk mengubah tingkah
laku menurut pandangan Pavlov itu pada dasarnya ada dua yaitu :
·
Conditioning Clasik, disebut juga dengan
conditioning responden karena tingkah laku dipelajari dengan memanfaatkan
hubungan stimulus respon yang bersifat refleks.
·
Conditioning Operan, conditioning operan tidak
tergantung kepada tingkah laku otomatis atau refleks sehingga jauh lebih
fleksibel dibandingkan dengan conditioning clasik.
3.2 SARAN
Menyadari bahwa kami masih
jauh dari kata sempurna, kedepannya kami akan lebih fokus dan details dalam
menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber - sumber yang lebih banyak
dan tentunya dapat di pertanggung jawabkan. Dan bagi para pembaca apabila
terdapat penjelasan yang kurang dimengerti maka kami juga sudah menyediakan situs-situs yang bagi
kami akan berguna untuk kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Bell,
Margareth E. 1994. Belajar dan
Membelajarkan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Brennan,
James F. 2006.Sejarah dan Sistem
Psikologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Davies,
Ivon K. 1987. Pengelolaan Belajar.
Jakarta: Rajawali Pers
Sudrajat, Akhmad. 2008. Teori-Teori Belajar. (Online), (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/, diakses tanggal 13 November 2011).
Usman, Moh. Uzer dan Lilis Setiawati. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda