BAB I. PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Pendengaran
merupakan salah satu indera yang sangat penting bagi manusia. Tanpa adanya alat
pendengaran, manusia tidak bisa
mendengar apa yang diucapkan orang lain dan tidak bisa memaham nya. Disaat
manusia tidak bisa melihat tetapi bisa mendengar, ia masih bisa belajar dan
berinteraksi dengan orang lain seperti biasa. Sebaliknya, jika seseorang bisa
melihat tetapi tidak bisa mendengar, ia tidak akan bisa berinteraksi dengan
orang laian dengan baik. Karena ia tidak mampu mendengar atau memahami
perkataan orang lain. Namun, kedua indra tersebut sangatlah penting dalam
kehidupan manusia untuk berintraksi dan bertahan hidup di masyarakat.
Pendengaran terjadi karena adanyaa
stimulus-stimulus yang berperan dalan sistem pendengaran manusia. Maka dalam
makalah ini, kami akan membahas bagaimana cara kerja sistem pendengaran itu
terjadi. Tidak hanya itu, disini kami akan membahas mengenai indra tubuh dan
indra kimiawi karena itu semua berpengaruh dalam psikologi.
2. Rumusan Masalah
1. Apa itu stimulus dan anatomi sistem
visual?
2. Bagaimana kerja sistem pendengaran?
3. Bagaimana kerja sistem vestibular?
4. Apa iu sematosensori?
5. Bagaimana kerja sistem pengecapan?
6. Bagaimana kerja sistem penghiduan?
7. Bagaimana pengkodean visual diretina?
8. Bagaimana peran korteks striata?
9. Bagaimana peran korteks asosiasi visual?
3. Tujuan
1. Menjelaskan stimulus dan anatomi sistem
visual
2. Menjelaskan kerja sistem pendengaran
3. Menjelaskan kerja sistem vestibular
4. Menjelaskan sematosensori
5. Menjelaskan sistem pengecapan
6. Menjelaskan sistem penghiduan
7. Menjelaskan pengkodean sistem visual
diretina
8. Menejelaskan peran korteks striata
9. Menjelaskan peran korteks asosiasi
visual
BAB II. ISI
A. STIMULUS DAN ANATOMI
SISTEM VISUAL
Sinar terdiri atas radiasi
elektromagnetik serupa dengan gelombang radio, tetapi dengan frekuensi dan
panjang gelombang berbeda. Warna dapat berbeda-beda tiga dimensi: hue,
kecerahan dan saturnasi yang berkesesuaian dengan dimensi-dimensi fisik
berupapanjang gelombang, intensitas dan kemurnian.fotoreseptor diretina sel-sel
batang dan sel-sel kerucut mendeteksi sinar. Otot-otot menggerakan mata
sehingga citra bagian tertentu lingkungan jatuh ke retina. Akomodasi
dilaksanakan oleh otot-otot siliaris yang mengubah bentuk lensa. Fotoreseptor
berkomunikasi melalui sinapsis dengan sel-sel ganglion. Sel-sel horisontal dan
sel-sel amakrin mengombinasikan pesan-pesan dari fotoreseptor yang
bersebelahan. Sewaktu sinar menghantam sebuah molekul fotopigmen difotoreseptor
, molekul retinal terlepas dari molekul opsin. Sebagai akibatnya, laju
penembakan sel ganglion berubah, mengirimkan sinyal deteksi sinar. Beberapa
wilayah seperti hipotalamus dan tektum, menerima informasi visual dan membantu
meregulasi aktivitas dalam daur siang malam, mengoordinasi gerak ata dan kepala
serta mengendalikan perhatian terhadap stimulus visual dan mengatur ukuran
pupil.
Kemampuan
kita untuk mendeteksi stimulus visual tergantung pada sensitivitas mata kita
terhadap perbedaan cahaya. Panjang gelombang cahaya yang direfleksikan dari
stimulus menentukan corak dan warna.
1.
Struktur Mata
Sklera adalah membran terluar bola
mata yang membentuk warna putih pada mata, berguna untuk mempertahankan bentuk
mata dan melindungi mata dari cedera.
Iris, otot berwarna yang mengelilingi pupil dan menyesuaikan jumlah cahya yang
memasuki mata melalui pupil. Iris mengadung otot-otot yang mengontrol ukuran
pupil. Pupil membesar atau mengecil dalam merespon emosi tertentu. Pupil adalah
pembuka yang memungkinkan cahaya memasuki mata.
Dua strukturyang menghasilkan fokus pada
gambar, kornea dan lensa. Kornea, membran tipis tepat didepan mata yang
melindungi mata dann membelokkan cahaya untuk memberikan fokus. Lensa, struktur
yang transparan dan fleksibel mirip dengan cakram yang berisi material berupa
agar-agar. Lensa ini memfokuskan gambar ke lapisan retina di belakang permukaan
mata. Fungsi dari kedua ini adalah mengikat cahaya yang jatuh ke permukaan mata
secukupnya agardapat memfokuskannya ke bagian belakang mata. Tanpa kemampuan
lensa untuk mengubah kelengkungannya, mata akan mengalami kesulitan untuk fokus
pada objek yang terletak dekat dengan mata, seperti buku bacaan.
Retina dibentuk dari lapisan sel di
bagian dalam mata yang terdiri dari fotoreseptor,
sel batang dan sel kerucut. Retina terdiri dari beberapa lapisan dengan
permukaan yang sensitif terhadap cahaya yang bertugas mencatat atau merekam
energi elektromagnetik serta mengubahnya menjadi impuls untuk diproses didalam
otak. Bagian ini berperan dalam mekanisme penglihatan. Bahkan, setelah
penelitian intens selama berpuluh tahun lamanya, kehebatan struktur ini msih
belum dipahami sepenuhnya ( Collin dkk,2012;Herberstein & Kemp, 2012).
Terdapat dua selreseptor visual, sel batang dan sel kerucut. Sel batang, adalah
reseptor pada retina yang sensitif terhadap ahaya namun tidak terlalu berguna
untuk penglihatan warna. Sel ini berfungsi baik dbawah pencahayan rendah. Sel
batang bekerja pada malam hari, mansuia memiliki 120 sel batang. Sel kerucut,
adalah reseptor yang kita gunakan untuk mempersepsikan warna. Sel ini sensitif
terhadap cahaya, terdapat 6 juta sel kerucut pada mata manusia.
Bagian terpenting dari retina adalah
fovea, area kecil pada pusat retina tempat penglihatan berada pada kondisi
terbaik. Fovea ini memiliki satu sel kerucut dan penting untuk berbagai tugas
visual. Sel batang ditemukan diseluruh bagia retina kecuali pada fovea. Sel
batang mampu memberikan kemampuan bagi mata untuk melihat titik gelap pada tepi
retina dibanding fovea. Salah satu bagian retina yang tidak terdapat sel batang
dan sel kerucut adalah titik buta.
B. PENDENGARAN
Pendengaran merupakan indra tubuh yang
sangat penting dari beberapa indra yang terdapat di tubuh. Pendengaran adalah
kemampuan untuk mengenali suara. Sistem pendengaran ini menggunakan telinga,
otak, dan syaraf-syaraf yang bekerja sama sehingga manusia bisa mendengar
suara.
1. Stimulus
Saat suatu benda atau objek lain bergetar menyebabkan
molekul-molekul di udara bergerak bergantian seperti merapat(kondensasi) atau
menjauh(rerefikasi). Kemudian gelombang suara atau getaran tersebut bergerak
menjauh dari objek yang bergetar. Suara akan terbentuk jika gelombang-gelombang
yang dibentuk dari getaran yang berkisar 30 dan 20.000 kali per detik ini
menstimulasi sel reseptor ditelinga kita kemudian dipersepsikan.
Setiap suara itu
berbeda yang dilihat dari pitch, kenyaringan dan timber. Pitch, suatau stimulus auditoris yang ditentukan oleh frekuensi
geteran(Hz). Kenyaringan, fungsi
intensitas perbedaan kondensasi dan penipisan udara.jika getarang benda semakin
kencang, maka suara menjadi rapat dan akhirnya terdengar nyaring. Timber, menyediakan informasi terkait
sifat suara, misalnya suara peluit. Stimulus akustik cendrung bersifat kompleks
karena terdiri dari berbagai getaran. Oleh sebab itu, bisa ditentukannya timber
suara.
Gelombang suara juga beragam karena
amplitudo. Amplitudo suara adalah jumlah tekanan yang dihasilkan gelombang
suara relatif terhadap standar (dB).
2. Stuktur dan Fungsi Telinga
Fungsional telinga bekerja sama seperti
mata, suara perlu dialirkan dalam fokus dan memiliki cahaya yang cukup agar
otak dapat menginterpretasikan dengan tetap menjaga informasi tentang lokasi,
frekuensi,dan timbre.
Telinga dibagai menjadi
tiga bagian, yaitu:
·
Telinga
Bagian Luar
Telinga luar terdiri dari pina yang
berbentuk corong dan terlihat dari luar. Pina
ini bertugas mengumpulkan suara dan mengalirkan ke telingan bagian tengah.
·
Telinga
Bagian Tengah
Telinga bagian tengan ini
mengalirkan suara ke gendang telinga, 3
tulang pneengaran ( martil, sanggurdi dan landasan ) terus ke telingan
bagian dalam. Gendang telinga atau
membran timpani, ini akan bergetar ketika suara masuk dalam telinga. Tiga tulang pendengaran (martil, landasan
dan sanggurdi) merupakan tulang terkecil dalam tubuh manusia. Tiga tulang
ini akan mengalirkan gelombang suara ke bagian telinga dalam saat bergetar. Otot-otot
yang mengatur tiga tulang ini mengambil getaran dari gendang telinga dan
mengalirkannya ke dalam jendela oval.
·
Telinga
Bagian Dalam
Fungsi telingan
bagian dalam, yang meliputi jendela oval,
koklea dan membran basilar adalah mengubah gelombang suara menjadi impuls
neural dan mengirimkannya ke otak ( Gregan, Nelson & Oxenham, 2011 ). Jendela oval, bukaan di tulang yang
mengelilingi koklea yang menampakkan selapis membran, yang ditekan oleh lempeng
dasar tulang sanggurdi, sehingga meneruskan getaran suara ke cairan di dalam
koklea. Koklea adalah berbentuk
rumah siput yang didalamnya terdapat cairan. Secara memanjang, koklea dibagai
tiga bagian, skala vestibuli ( tangga
vestibular ), skala media ( tangga
tengah ), dan skala tympani ( tangga timpani ). Telinga bagian dalam juga
terdapat organ reseptor organ Corti, yang terdiri dari membran basilar, sel
rambut, dan membran tektorial. Membran
basilar, mebran ini sempit dan kaku pada dasar koklea namun meluar dan
fleksibel pada bagian atasnya. Membran basilar ini terdapat pada sepanjang
koklea dan melapisi koklea. Sel rambut,
sel-sel reseptor auditoris yang tertambat dan lewat melalui membram retikular
serta ujung sebagian diantaranya melekat ke mebran tektorial yang kaku. Membran
tektorial, membran yang terletak di atas mebran besilar, berperan sebagai rak
yang menjadi tumpuan gerak silia sel-sel rambut auditoris.
C. SISTEM VESTIBULAR
Sistem vestibular terdiri dari dua
komponen, yaitu kantong-kantong
vestibular dan kanal-kanal
semisirkular. Kantong-kantong
vestibular merespon gaya gravitasi dan menginformasikan kepada otak
mengenai orientasi kepala. Kanal-kanal
semisirkular merespon terhadap percepatan sudut perubahan rotasi kepala
namun tidak terhadap rotasi tak terputus.
Fungsi sistem vestibular adalah
mencakup keseimbangan, penjagaan kepala agar tetap tegak dan penyesuaian gerak
mata guna mengompensasi pergerakan kepala. Sistem vestibular tidak menghasilkan
sensai apapun, stimulasi berfrekuensi rendah tertentu terhadap kantong-kantong
vestibular dapat menyebabkan mual hebat, sementara stimulasi kanal-kanal
semisirkular dapat menimbukan rasa pening dan gerak mata ritmis ( nistagmus )
1.
Anatomi Aparatus Vestibular
Labirin telinga dalam mencakup koklea, kanal-kanal
semisirkular dan dua kantong vestibular, yaitu utrikulus ( kantong kecil ) dan sakulus
( karung kecil ). Kanal-kanal semisirkular hampir sejajar dengan bidang utama
kepala: sagital, transversal, dan
horizontal. Reseptor dimasing-masing kanal merespon terhadap perceptan
sudut pada bidang ini. Kanal semisirkular terdiri atas sebuah kanal dari tulang
keras yang mengandung cairan yang disebut endolimfe.
Reseptor-reseptor sensori adalah sel-sel rambut yang serupa dengan yang
ditemukan di koklea. Silia sel-sel ini tertanam dalam massa bergelatin yang
disebut kupula.
Endolimfe yang terdapat dalam kanal-kanal akan
menolak gerakan ketika kepala berotasi. Resitensi inersia mendorong endolimfe
ke kupula, menyebabkannya menekuk, sampai cairan tersebut mulai bergerak dengan
kecepatan yang sama dengan kepala. Kantong-kantong vestibular bekerja melingkar
dan masing-masing mengandung setumpuk jaringan penerima. Jaringan penerima
dasar ( utrikulus ) dan di dinding ( sakulus ) ketika kepala dalam posisi
tegak. Jaringan penerima mengandung sel-sel rambut yang tertanam dalam massa
bergelatin yang melapisinya yang mengandung kristal-kristal kecil yang disebut otokonia.
2. Sel-sel Reseptor
Sel
rambut kanal semisirkular dan kantong vestibular tampak sama, sel rambut
mengandung silia yang panjang bergradasi dari pendek ke panjang. Sel rambut ini
menyerupai sel auditoris yang terdapat di koklea dan mekanismenya transduksinya
juga sempit. Gaya dorong silia membuka saluran-saluran ion dan masuknya ion-ion
kalium mendepolarisasi membran silia. Ketiga bentuk sel rambut menggunakan
molekul reseptor yang sama.
3.
Jalur Vestibular
Saraf-saraf
vestibular dan koklea menyusun dua cabang saraf kranial kedelapan. Badan-badan
sel bipolar yang menjadi sumber akson-akson aferen saraf vestibular terletak di
ganglion vestibular, yang tampak sebagai bintil pada saraf vestibular. Sebagian
besar membentuk sinapsis dalam nukleus-nukleus vestibular di medula, tetapi
sebagian akson menjulur langsung ke serebelum. Kebanyakan peneliti berpendapat
bahwa penjuluran-penjuluran ke korteks bekerja untuk perasaan pening, aktivitas
penjuluran ke batang otak bawah dapat menyebabkan mual dan muntah-muntah.
Sambungan-sambungan
turmenarik adalah yang menuju ke nukleus-nukleus saraf kranial yang
mengendalikak otot mata. Sistem vestibular memberikan kontrol langsung terhadap
gerakan mata untuk mengompensasi gerakan kepala yang mendadak atau yang disebut
refleks vestibula okular.
D. SEMATOSENSORI
Sematosensori
menyediakan informasi mengenai proses yang sedang terjadi di permukaan tubuh
dan didalamnya. Indra kutan (indra
kulit) mencakup sejumlah submodalitas yang secara umum disebut sentuhan.
Propriosepsi dan kinestesia memberikan informasi mengenai posisi dan gerakan
tubuh. Indra-indra organik berasal dari reseptor-reseptor di dalam disekililing
organ-organ internal. Oleh karena itu, indra ktan adalah sematosensori yang
paling banyak dipelajari baik secara perseptual maupun fisiologis.
1. Stimulus
Indra indra kutan merespons terhadap
bebrapa jenis stimulus berbeda: tekanan, getaran, panas, dingin dan peristiwa
yang menyebabkan kerusakan jaringan. Rasa tekanan disebabkan oleh deformasi
mekanis pada kulit. Getaran dihasilkan di laboratorium atau klinik dengan garpu
tala atau alat mekanis, tetapi lebih sering terjadi sewaktu kita menggerakan
jari pada permukaan kasar. Sedangkan sensai panas dan dingin dihasilkan oleh
benda-benda yang menaikkan dan menurunkan suhu kulit dari normal. Rasa nyeri
disebabkan oleh banyak jeis stimulus berbeda, tetapi tampaknya sebagian besar
menyebabkan setidaknya sedikit kerusakan
jaringan.
Salah satu sumber kinestersia adalah
reseptor rentangan yang ditentukan di otot-otot rangka, yang melaporkan
perubahan panjang oto ke sistem saraf pusat.sumber terpenting umpan balik
kinestetik tampaknya berasal dari reseptor-reseptor yang merespons terhadap
perubahan dalam pertentangan kulit selama gerakan sendi atau oto itu sendiri,
misalnya yang ada di wajah (Johansson dan Flanagan, 2009)
2.
Anatomi Kuli dan Organ- organ Reseptifnya
Kulit adalah organ kompleks dan
vital di tubuh organ yang cendrung kita spelekan. Kulit berperan dalam
termoregulasi dengan cara menghasilkan keringat sehingga mendinginkan tubuh
atau dengan membatasi peredaran darahnya, sehingga mempertahankan panas. Penampakkannya
sangat bervariasi diseluruh tubuh mulai dari membran mukus, kulit berambut
lebta, sampai kulit mulus tak berambut di telpak tangan dan telapak kaki yang
dikenalkan sebagai kulit glabrus.
Kulit terdiri atas jaringan subkutan, dermis, dan epidermis serta mengandung
berbagai macam reseptor yang tersebar di seluruh lapisan ini. Kulit glabrus
mengandung campuran reseptor yang rapat dan kompleks, yang mencerminkan fakta
bahwa kita menggunakan telapak tangan dan ajri untuk memegang dan menyentuh
bend-benda. Sebaliknya, bagian-bagian lain tubuh kita paling sering berkontak
dengan lingkungan secara pasif dengan kata lain benda-benda ini lah yang
menyentuhnya.
3. Jalur Sematosensoris
Akson-akson sematosensori dari
kulit, otot atau organ-organ internal memasuki sistem saraf pusat melalui
saraf-saraf tulang belakang. Akson-akson yang terletak diwajah dan kepala
terutama masuk melalui saraf trigerminal. Akson-akson yang mengantarkan
informasi dari letak yang sangat spesifik, misalnya sentuhan halus, naik melalui
kolom dorsal di materi putih urat saraf tulang belakang ke nukleus-nukleus di
medula bawah. Akson-aksonmelintasi otak dan naik melalui lemniskus medial ke
nukleus- nukleus posterior ventral di talamus, nukleus-nukleus penghantar
somatosensasi. Akson-akson dari talamus mejulur kekorteks somatosensoris primer
yang sendirinya mejulurkan akson ke somatosensoris sekunder. Disisi lain, akson
tersebut mengantarkan informasi yang letaknya kurang jelas, misalnya nyeri dan
suhu, membentuk sinapsis dnegan neuron-neuron lain idak lama setelah memasuki
urat saraf tulang belakang. Akson-akson ini menyebrang ke sisi satu lagi urat
saraf tulang belakang dan naik melalui saluran spinotalamus ke nukleus-nukleus
porterior ventral di talamus.
Korteks somatosensoris ini tersusun
membentuk kolom-kolom yang ditemukan oleh Mountcatle (1957) sebelum ditemukan
di korteks visual dan auditoris. Dalam satu kolom, neuron-neuron merespons
jenis stimulus tertentu yang diberikan ke bagian tertentu tubuh.
E.
PENGECAPAN
1. Stimulus
Indra
ini membantu untuk menentukan sifat benda-benda yang masuk kedlam mulut. Agar
dapat dirasa, molekul-molekulnya harus terlarut dalam air ludah dan
menstimulasi reseptor-reseptor pengecapan di lidah. Zat yang berbeda-bed, maka
rasanya berbeda-beda pula. Terdapat beberapa kualitas rasa : pahit, asam,
manis, asin, umami dan lainnya. Flavor adalah gabungan antara penghiduan dan
pengecapan. Flavor makanan sangat bergantung kepada baunya.
Reseptor
manis merupakan detektor makan,
sebagian besar makanan yang rasanya manis, misalnya buah-buahan dan sejumlah
sayuran, aman disantap (Ramirez, 1990). Reseptor asin mendektekdi kebeadaan natrium klorida. Umami, kata bahasa jepang yang berarti ‘ rasa gurih/ enak’mengacu
pada rasa monosodium glutamat (MSG). Reseptor umami menyediakan kemampuan untuk
merasakan protein, nutrein yang penting. Asam,
terasa kecut dan menyebabkan reaksi menhindar. Pahit, nyaris dihindari oleh semua makhluk hidup dan tidak dapat
dibuat menajdi lebih baik dengan menambahkan rasa manis.
Peneliti menyimpulkan bahwa lemak
dapat dirasakan melalui bau dan teksturnya.tetapi, Fukuwatari et al. (2003)
menemukan bahwa tikus yang indra penghiduannya dihncurkan tetap menunjukkan
kesukaan kepada makanan cair yang mengandung asam lemak. Ketika lemak mencapai
lidah, sejumlah molekul terurau menjadi asam lemak akibat kerja enzim sejenis
enzim bernama lipase lingual yang
ditemukan dekat kuncup pengecap.
2.
Anatomi Kuncup Pengecap dan Sel-sel Gustatoris
Lidah, langit-langit mulut, faring
dan laring menandung kira-kira 10.00 kuncup pengecap. Sebagian besar organ
penerima ini tersusun di sekililing papila, tonjolan-tonjolan kecil di lidah. Papila fungiformis, yang terletak di dua
pertiga anterior lidah, mengandung sampai delapan kuncup pengecap,
bersamam-sama reseptor untuk tekanan, sentuhan dan suhu. Papila foliata mengandung sampai delapan lipatan paralel diepanjang
tiap lipatan belakang lidah. Papila
sirkumvalata, tersusun membentuk V terbalik di sepertiga posterior lidah,
mengadung kira-kira 250 kuncup pengecap. Kuncup-kuncup pengecap terdiri atas
kumpulan dua puluh sampai lima puluh sel reseptor, neuron-neuron khusu yang
tersusun agak mirip bilah-bilah buah jeruk.
Sel-sel reseptor rasa membentuk
sinapsis dengan dendrit-dendrit neuron bipolar yang akson-alsonnya menyampaikan
informasi gustatoris ke otak melalui saraf-saraf kranial ketujuh, kesembilan
dan kesepuluh. Sel-sel reseptor memiliki rentang hidup hanya kira-kira sepuluh
hari. Sel tersebut dengan cepat aus karena terpapar langsung ke lingkungan yang
cukup keras. Sewaktu mereka perlahan rusak, sel-sel itu digantikan oleh sel-sel
yang baru berkembang, dendrit neuron bipolar dipindahkan ke sel yang baru
(Beidler, 1970).
F. PENGHIDUAN
Penghiduan
(olfaksi), indra kimiawi kedua yang membantu kita mengidentifikasi makanan dan
menghindari makanan yang sudah busuk dan tidak cocok untuk dimakan.
1.
Stimulus
Stimulus bau terdiri dari zat-zat
volatil yang memiliki berat molekul pada kisaran kira-kira 15-300. Semua
senyawa berbau merupakan zat terlarut lipid dan bersumber organik.
2. Anatomi Aparatus
Olfaktoris
Sebanyak 6 juta sel reseptor berada
didalam dua topok membran mukus ( epitelium elfaktoris). Epitelium olfaktoris
terletak di puncak rongga hidung. Sel-sel olfaktoris adalah neuron-neuron
bipolar yang badan-badan selnya terletak didalam mukosa olfaktoris yang
melapisi lempeng sribriformis, tulang didasar bagian rostralotak. Sel-sel
penyokong mengandung enzim-enzim yang menghancurkan molekul-molekul odoran dan
karenanya membantu mencegah sel-sel itu merusak sel-sel reseptor olfaktoris.
Molekul-molekul bau harus terlarut dalam mukus dan menstimulasi molekul-molekul
reseptor pada silia olfaktoris. Mukosa olfaktoris juga mengandung ujung-ujung
saraf bebas dari akson-akson saraf trigeminal , ujujng-ujung saraf ini
memediasi sensai nyeri yang dapat timbul akibat mengendus-endus zat kimia
pengiritasi, misalnya amonia.
Bulbus olfaktoris terletak di dasar
otak pada ujung-ujung saluran olfaktoris serupa tangkai. Masing-masing sel
olfaktoris tersebut menjulurkan satu akson tunggal kedalam satu bulbus
olfaktoris dan membentuk sinapsis dengan karena mirip miter, atau hiasan kepala
upacara yang dikenakan. Sinapsis- sinapsis ini diarborisasi dendrit dan akson
kompleks yang disebut glomerulus olfaktoris. Sejumlah akson ini berujung di
wilayah-wilayah lain otak depan ipsilateral yang lain menyebrangi otak dan
berujung di bulbus olfaktoris kontralateral. Akson saluran olfaktoris menjulur
langsung ke amigdala dan dua wilayah korteks limbik. Amigdala menjulurkan
informasi olfaktoris ke hipotalamus, koreteks entorinal menjulurkannya ke
hipotalamus, sementara korteks piriformis menjulurkannya ke hipotalamus dan ke
korteks orbitofrontal melalui nukleus dorsomedial ditalamus (Buck, 1996;Shipley
dan Ennis, 1996).
Hipotalamus
banyak menerima informasi olfaktoris yang barngkali penting untuk penerimaan
atau penolakkan makanan dan untuk kontrol olfaktoris atas proses-proses
reproduktif yang termati pada banyak spesies mamalia.
3. Persepsi Bau
Spesifik
Manusia dapat mengenali sampai 10.00
odoran berbeda, sementara hewan dapat mengenali labih banyak lagi (Shepherd,
1994). Para peneliti mendapati bahwa informasi retinotopik dipertahankanoleh
sistem visual, informasi tonotopik dipertahankan di sistem auditoris ,
informasi olfaktopik di pertahankan di sistem olfaktoris. Glomerulus tertentu
menerima informasi dari reseptor olfaktoris tertentu ke wilayah-wilayah
spesifik dikorteks olfaktoris. Satu odoran tertentu berikatan ke lebih dari
satu reseptor . karena glomerulus tertentu menerima informasi dari satu tipe
reseptor saja, odoran-odoran berbeda meneghasilkan pola-pola aktivitas berbeda
pada dlomerulus yang berbeda-beda. Oleh karena itu, mengenali bau tertentu
merupakan persoalan mengenali pola aktivitas tertentu di glomerulus. Pola
spasial informasi’olfaktotopik’ dipertahankan dikorteks olfaktoris
G. PENGKODEAN
INFORMASI VISUAL DI RETINA
Cahaya masuk melalui
pupil kemudian difokuskan dengan adanya lensa dan kornea. Kemudian cahaya
tersebut diproyeksikan ke retina. Cahaya yang datang dari sisi atas akan
diproyeksikan ke retina belahan bawah, sebaliknya cahaya yang datang dari sisi
bawah akan di proyeksikan ke retina bagian atas. Retina terdapat sekita 20-125
sel batang yng bereaksi pada cahaya redup. Retina juga memiliki 7 sampai 8 juta
sel kerucut.
Saraf optik meninggalkan
mata, membawa informasi mengenai cahaya ke otak. Chaya ini bergerak lurus, maka
stimulus pada area visual kiri tertangkap pada belahan kana retina di kedua
mata , dan begitu sebaliknya. Pada otak, disuatu titik yang disebut kiasma
optik yang merupakan serabut saraf optif berpisah dan sekitar setengah serabut
saraf melintasi bagian tengah otak. Akhrinya, informasi visual yang berasal
dari belahan kann kedua retina dialirkan ke bagian kanan lobus oksipital di
korteks serebrum, dan informasi visual yng berasal dari belahan iri retina
dialirkan ke sisi lobus oksipital. Persimpangan ini berarti bahwa hal yang kita
liat disisi kiri area visual tertangkap pada bagian kanan otak dan hal yang
kita lihat pad area visual kanan tertangkap pada sisi kiri otak. Kemuadian,
informasi diproses dan dikombinasikan ke dalam objek atau suasana yang dapat
dikenali dikortek visual.
Di dalam retina,
reseptor mengirimkan informasi ke sel bipolar dan horizontal. Kedua sel itu
melanjutkan informasi ke dalam sel amakrin dan gaglion. Selanjutnya akson
genglion tersebu keluar dari bola mata dan bergabung dengan bintik buta. Akson
tersebut membentuk saraf optik yang akan membawa informasi dari bagian belakang
mata menuju thalamus yaitu Lateral Genuculate Nucleus (LGN). Meuron dari LGN
meneruskan visual ke korteks visual primer yang terletak pada lobus okspital
bagian otak belakang dan terjadilah persepsi visual.
H. ANALISIS
INFORMASI VISUAL: PERAN KORTEKS STRIATA
Korteks striata terdiri dari enam
lapisan yang tersusun dalam pita-pita yang paralel dengan permukaan. Lapisan
ini mengandung nukleus badan sel dan pohon dendrit yang tampak sebagai pita
terang atau gelap pad irisan-irisan jaringan yang telah diwarnai dngan pewarna
badan sel. Korteks striata mengandung peta separuh kontralateral medan visual.
Peta itu terdistorsi kira-kira 25 persen korteks srtiata dikhususkan untuk
analisis informasi dari fovea, yang mempresentasikan sebagian kecil medan
visual.
Kebanyakan neuron di korteks
striata peka terhadap orientasi. Bila suatu garis atau tepian berada dalam
medan reseptif sel dan diputar mengelilingi pusatnya, sel akan merespons hanya
bila garis itu pada posisi tertentu. Sejumlah neuron peka orientasi memiliki
medan resptif yang terorganisasi secara berlawanan. Hubel dan Wiesel
menyebutnya sebagai sel-sel sederhana. Satu tipe sel lain yang disebut peneliti
sebagai sel kompleks yag juga merespons paling baik terhadap garis dengan
orientasi tertentu. Artinya, neuron tersebut terus merespons sementara garis
itu digerakkan didalam medan reseptif. Neuron juga bertindak sebagai pendeteksi
gerakan, serta sel-sel kompleks merespons sama baiknya terhadap garis putih
pada latar hitam maupun garis hitam terhadap latar putih. Sel-sel hiperkompleks
merespons terhadap garis-garis berorientasi tertentu, tetapi memiliki wilayah
hambatan pada ujung garis yng berarti sel-sel itu mendeteksi lokasi ujung-ujung
gariss berorientasi tertentu.
Kebanyakan neuron dikorteks striata
merespons paling baik ketika kisi-kisi gelombang sinus dengan frekuensi spasial
tertentu ditempatkan pada bagian medan visual yang sesuai. Neuron-neuron
berbeda mendeteksi frekuensi spasial yang berbeda-beda juga.
I. ANATOMI
INFORMASI VISUAL: PERAN KORTEKS ASOSIASI VISUAL
Informasi
dari modul-modul individual ini harus digabung di korteks asosiasi visual.
Informasi visual yang diterima dari korteks striata ini dianalisis dikorteks
asosiasi visual. Neuron-neuron dari korteks striata menjulurkan akson ke
korteks ekstrastriata, wilayah korteks asosiasi visual yang mengelilingi
koretks striata. Korteks eksrtastriata terdiri dari satu atau lebih peta
mandiri medan visual. Masing-masing wilayah terspesialisasi, mengandung
neuron-neuron yang merespons fitur-fitur tertentu dari informasi visual,
misalnya orientasi, pergerakan, frekuensi spasial, disparitas retina, atau
warna. Wilayah-wilayah di korteks visual tersusun secara hierarkis, dimulai
dengan korteks striata. Hasil penelitian
yang dilakukan oleh para ahli menunjukan bahwa sebuah fenomena yang ada karena
informasi yang mengikuti jalur-jalus yang menaiki hierarki dari wilayah-wilayah
korteks asosiasi visual kembali ke korteks striata.
Korteks
asosiasi visual terbagi menjadi dan jalur, menurut penelitian korteks asosiasi
visual mengandung dua aliran analisi: aliran dorsal dan aliran ventral. Aliran
dorsal memilik fungsi yaitu menyediakan informasi visual yang memandu navigasi
dan gerakan terampil yang diarahkan menuju objek, sedangkan aliran ventral
menyediakan informasi visual mengenai ukuran, bentuk, warna, dan tekstur objek.
BAB III. PENUTUPAN
A. KESIMPULAN
Pendengaran merupakan salah satu indera yang
sangat penting bagi manusia. Tanpa adanya alat pendengaran, manusia tidak bisa
mendengar apa yang diucapkan orang lain dan tidak bisa memaham nya. Pendengaran
terjadi karena adanyaa stimulus-stimulus yang berperan dalan sistem pendengaran
manusia. Telinga dibagai menjadi tiga bagian, yaitu: Telinga Bagian Luar,
Bagian Tengah,Telinga Bagian Dalam.
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda