Selasa, 25 Februari 2020

Pendengaran, Indra Tubuh dan Indra Kimiawi /LisanaSh


BAB I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
             Pendengaran merupakan salah satu indera yang sangat penting bagi manusia. Tanpa adanya alat pendengaran, manusia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan orang lain dan tidak bisa memaham nya. Disaat manusia tidak bisa melihat tetapi bisa mendengar, ia masih bisa belajar dan berinteraksi dengan orang lain seperti biasa. Sebaliknya, jika seseorang bisa melihat tetapi tidak bisa mendengar, ia tidak akan bisa berinteraksi dengan orang laian dengan baik. Karena ia tidak mampu mendengar atau memahami perkataan orang lain. Namun, kedua indra tersebut sangatlah penting dalam kehidupan manusia untuk berintraksi dan bertahan hidup di masyarakat.
          Pendengaran terjadi karena adanyaa stimulus-stimulus yang berperan dalan sistem pendengaran manusia. Maka dalam makalah ini, kami akan membahas bagaimana cara kerja sistem pendengaran itu terjadi. Tidak hanya itu, disini kami akan membahas mengenai indra tubuh dan indra kimiawi karena itu semua berpengaruh dalam psikologi.
2. Rumusan Masalah
     1. Apa itu stimulus dan anatomi sistem visual?
     2. Bagaimana kerja sistem pendengaran?
     3. Bagaimana kerja sistem vestibular?
     4. Apa iu sematosensori?
     5. Bagaimana kerja sistem pengecapan?
     6. Bagaimana kerja sistem penghiduan?
     7. Bagaimana pengkodean visual diretina?
     8. Bagaimana peran korteks striata?
     9. Bagaimana peran korteks asosiasi visual?
3. Tujuan
     1. Menjelaskan stimulus dan anatomi sistem visual
     2. Menjelaskan kerja sistem pendengaran
     3. Menjelaskan kerja sistem vestibular
     4. Menjelaskan sematosensori
     5. Menjelaskan sistem pengecapan
     6. Menjelaskan sistem penghiduan
     7. Menjelaskan pengkodean sistem visual diretina
     8. Menejelaskan peran korteks striata
     9. Menjelaskan peran korteks asosiasi visual
BAB II. ISI
A. STIMULUS DAN ANATOMI SISTEM VISUAL
            Sinar terdiri atas radiasi elektromagnetik serupa dengan gelombang radio, tetapi dengan frekuensi dan panjang gelombang berbeda. Warna dapat berbeda-beda tiga dimensi: hue, kecerahan dan saturnasi yang berkesesuaian dengan dimensi-dimensi fisik berupapanjang gelombang, intensitas dan kemurnian.fotoreseptor diretina sel-sel batang dan sel-sel kerucut mendeteksi sinar. Otot-otot menggerakan mata sehingga citra bagian tertentu lingkungan jatuh ke retina. Akomodasi dilaksanakan oleh otot-otot siliaris yang mengubah bentuk lensa. Fotoreseptor berkomunikasi melalui sinapsis dengan sel-sel ganglion. Sel-sel horisontal dan sel-sel amakrin mengombinasikan pesan-pesan dari fotoreseptor yang bersebelahan. Sewaktu sinar menghantam sebuah molekul fotopigmen difotoreseptor , molekul retinal terlepas dari molekul opsin. Sebagai akibatnya, laju penembakan sel ganglion berubah, mengirimkan sinyal deteksi sinar. Beberapa wilayah seperti hipotalamus dan tektum, menerima informasi visual dan membantu meregulasi aktivitas dalam daur siang malam, mengoordinasi gerak ata dan kepala serta mengendalikan perhatian terhadap stimulus visual dan mengatur ukuran pupil.
            Kemampuan kita untuk mendeteksi stimulus visual tergantung pada sensitivitas mata kita terhadap perbedaan cahaya. Panjang gelombang cahaya yang direfleksikan dari stimulus menentukan corak dan warna.
            1. Struktur Mata
            Sklera adalah membran terluar bola mata yang membentuk warna putih pada mata, berguna untuk mempertahankan bentuk mata  dan melindungi mata dari cedera. Iris, otot berwarna yang mengelilingi pupil dan menyesuaikan jumlah cahya yang memasuki mata melalui pupil. Iris mengadung otot-otot yang mengontrol ukuran pupil. Pupil membesar atau mengecil dalam merespon emosi tertentu. Pupil adalah pembuka yang memungkinkan cahaya memasuki mata.
  Dua strukturyang menghasilkan fokus pada gambar, kornea dan lensa. Kornea, membran tipis tepat didepan mata yang melindungi mata dann membelokkan cahaya untuk memberikan fokus. Lensa, struktur yang transparan dan fleksibel mirip dengan cakram yang berisi material berupa agar-agar. Lensa ini memfokuskan gambar ke lapisan retina di belakang permukaan mata. Fungsi dari kedua ini adalah mengikat cahaya yang jatuh ke permukaan mata secukupnya agardapat memfokuskannya ke bagian belakang mata. Tanpa kemampuan lensa untuk mengubah kelengkungannya, mata akan mengalami kesulitan untuk fokus pada objek yang terletak dekat dengan mata, seperti buku bacaan.
            Retina dibentuk dari lapisan sel di bagian dalam mata yang terdiri dari        fotoreseptor, sel batang dan sel kerucut. Retina terdiri dari beberapa lapisan dengan permukaan yang sensitif terhadap cahaya yang bertugas mencatat atau merekam energi elektromagnetik serta mengubahnya menjadi impuls untuk diproses didalam otak. Bagian ini berperan dalam mekanisme penglihatan. Bahkan, setelah penelitian intens selama berpuluh tahun lamanya, kehebatan struktur ini msih belum dipahami sepenuhnya ( Collin dkk,2012;Herberstein & Kemp, 2012). Terdapat dua selreseptor visual, sel batang dan sel kerucut. Sel batang, adalah reseptor pada retina yang sensitif terhadap ahaya namun tidak terlalu berguna untuk penglihatan warna. Sel ini berfungsi baik dbawah pencahayan rendah. Sel batang bekerja pada malam hari, mansuia memiliki 120 sel batang. Sel kerucut, adalah reseptor yang kita gunakan untuk mempersepsikan warna. Sel ini sensitif terhadap cahaya, terdapat 6 juta sel kerucut pada mata manusia.
            Bagian terpenting dari retina adalah fovea, area kecil pada pusat retina tempat penglihatan berada pada kondisi terbaik. Fovea ini memiliki satu sel kerucut dan penting untuk berbagai tugas visual. Sel batang ditemukan diseluruh bagia retina kecuali pada fovea. Sel batang mampu memberikan kemampuan bagi mata untuk melihat titik gelap pada tepi retina dibanding fovea. Salah satu bagian retina yang tidak terdapat sel batang dan sel kerucut adalah titik buta.
B. PENDENGARAN
     Pendengaran merupakan indra tubuh yang sangat penting dari beberapa indra yang terdapat di tubuh. Pendengaran adalah kemampuan untuk mengenali suara. Sistem pendengaran ini menggunakan telinga, otak, dan syaraf-syaraf yang bekerja sama sehingga manusia bisa mendengar suara.
1.    Stimulus
     Saat suatu benda atau objek lain bergetar menyebabkan molekul-molekul di udara bergerak bergantian seperti merapat(kondensasi) atau menjauh(rerefikasi). Kemudian gelombang suara atau getaran tersebut bergerak menjauh dari objek yang bergetar. Suara akan terbentuk jika gelombang-gelombang yang dibentuk dari getaran yang berkisar 30 dan 20.000 kali per detik ini menstimulasi sel reseptor ditelinga kita kemudian dipersepsikan.
Setiap suara itu berbeda yang dilihat dari pitch, kenyaringan dan timber. Pitch, suatau stimulus auditoris yang ditentukan oleh frekuensi geteran(Hz). Kenyaringan, fungsi intensitas perbedaan kondensasi dan penipisan udara.jika getarang benda semakin kencang, maka suara menjadi rapat dan akhirnya terdengar nyaring. Timber, menyediakan informasi terkait sifat suara, misalnya suara peluit. Stimulus akustik cendrung bersifat kompleks karena terdiri dari berbagai getaran. Oleh sebab itu, bisa ditentukannya timber suara.
     Gelombang suara juga beragam karena amplitudo. Amplitudo suara adalah jumlah tekanan yang dihasilkan gelombang suara relatif terhadap standar (dB).
                  
                   2.  Stuktur dan Fungsi Telinga
    Fungsional telinga bekerja sama seperti mata, suara perlu dialirkan dalam fokus dan memiliki cahaya yang cukup agar otak dapat menginterpretasikan dengan tetap menjaga informasi tentang lokasi, frekuensi,dan timbre.
Telinga dibagai menjadi tiga bagian, yaitu:
·         Telinga Bagian Luar
Telinga luar terdiri dari pina yang berbentuk corong dan terlihat dari luar. Pina ini bertugas mengumpulkan suara dan mengalirkan ke telingan bagian tengah.
·         Telinga Bagian Tengah
Telinga bagian tengan ini mengalirkan suara ke gendang telinga, 3 tulang pneengaran ( martil, sanggurdi dan landasan ) terus ke telingan bagian dalam. Gendang telinga atau membran timpani, ini akan bergetar ketika suara masuk dalam telinga. Tiga tulang pendengaran (martil, landasan dan sanggurdi) merupakan tulang terkecil dalam tubuh manusia. Tiga tulang ini akan mengalirkan gelombang suara ke bagian telinga dalam saat bergetar. Otot-otot yang mengatur tiga tulang ini mengambil getaran dari gendang telinga dan mengalirkannya ke dalam jendela oval.
·         Telinga Bagian Dalam
Fungsi telingan bagian dalam, yang meliputi jendela oval, koklea dan membran basilar adalah mengubah gelombang suara menjadi impuls neural dan mengirimkannya ke otak ( Gregan, Nelson & Oxenham, 2011 ). Jendela oval, bukaan di tulang yang mengelilingi koklea yang menampakkan selapis membran, yang ditekan oleh lempeng dasar tulang sanggurdi, sehingga meneruskan getaran suara ke cairan di dalam koklea. Koklea adalah berbentuk rumah siput yang didalamnya terdapat cairan. Secara memanjang, koklea dibagai tiga bagian, skala vestibuli ( tangga vestibular ), skala media ( tangga tengah ), dan skala tympani ( tangga timpani ). Telinga bagian dalam juga terdapat  organ reseptor organ Corti, yang terdiri dari membran basilar, sel rambut, dan membran tektorial. Membran basilar, mebran ini sempit dan kaku pada dasar koklea namun meluar dan fleksibel pada bagian atasnya. Membran basilar ini terdapat pada sepanjang koklea dan melapisi koklea. Sel rambut, sel-sel reseptor auditoris yang tertambat dan lewat melalui membram retikular serta ujung sebagian diantaranya melekat ke mebran tektorial yang kaku. Membran tektorial, membran yang terletak di atas mebran besilar, berperan sebagai rak yang menjadi tumpuan gerak silia sel-sel rambut auditoris.
C. SISTEM VESTIBULAR
          Sistem vestibular terdiri dari dua komponen, yaitu kantong-kantong vestibular dan kanal-kanal semisirkular. Kantong-kantong vestibular merespon gaya gravitasi dan menginformasikan kepada otak mengenai orientasi kepala. Kanal-kanal semisirkular merespon terhadap percepatan sudut perubahan rotasi kepala namun tidak terhadap rotasi tak terputus.
          Fungsi sistem vestibular adalah mencakup keseimbangan, penjagaan kepala agar tetap tegak dan penyesuaian gerak mata guna mengompensasi pergerakan kepala. Sistem vestibular tidak menghasilkan sensai apapun, stimulasi berfrekuensi rendah tertentu terhadap kantong-kantong vestibular dapat menyebabkan mual hebat, sementara stimulasi kanal-kanal semisirkular dapat menimbukan rasa pening dan gerak mata ritmis ( nistagmus )
            1. Anatomi Aparatus Vestibular
Labirin telinga dalam mencakup koklea, kanal-kanal semisirkular dan dua    kantong vestibular, yaitu utrikulus ( kantong kecil ) dan sakulus ( karung kecil ). Kanal-kanal semisirkular hampir sejajar dengan bidang utama kepala: sagital, transversal, dan horizontal. Reseptor dimasing-masing kanal merespon terhadap perceptan sudut pada bidang ini. Kanal semisirkular terdiri atas sebuah kanal dari tulang keras yang mengandung cairan yang disebut endolimfe. Reseptor-reseptor sensori adalah sel-sel rambut yang serupa dengan yang ditemukan di koklea. Silia sel-sel ini tertanam dalam massa bergelatin yang disebut kupula.
Endolimfe yang terdapat dalam kanal-kanal akan menolak gerakan ketika kepala berotasi. Resitensi inersia mendorong endolimfe ke kupula, menyebabkannya menekuk, sampai cairan tersebut mulai bergerak dengan kecepatan yang sama dengan kepala. Kantong-kantong vestibular bekerja melingkar dan masing-masing mengandung setumpuk jaringan penerima. Jaringan penerima dasar ( utrikulus ) dan di dinding ( sakulus ) ketika kepala dalam posisi tegak. Jaringan penerima mengandung sel-sel rambut yang tertanam dalam massa bergelatin yang melapisinya yang mengandung kristal-kristal kecil yang disebut otokonia.
            2. Sel-sel Reseptor
       Sel rambut kanal semisirkular dan kantong vestibular tampak sama, sel rambut mengandung silia yang panjang bergradasi dari pendek ke panjang. Sel rambut ini menyerupai sel auditoris yang terdapat di koklea dan mekanismenya transduksinya juga sempit. Gaya dorong silia membuka saluran-saluran ion dan masuknya ion-ion kalium mendepolarisasi membran silia. Ketiga bentuk sel rambut menggunakan molekul reseptor yang sama.
           
            3. Jalur Vestibular
       Saraf-saraf vestibular dan koklea menyusun dua cabang saraf kranial kedelapan. Badan-badan sel bipolar yang menjadi sumber akson-akson aferen saraf vestibular terletak di ganglion vestibular, yang tampak sebagai bintil pada saraf vestibular. Sebagian besar membentuk sinapsis dalam nukleus-nukleus vestibular di medula, tetapi sebagian akson menjulur langsung ke serebelum. Kebanyakan peneliti berpendapat bahwa penjuluran-penjuluran ke korteks bekerja untuk perasaan pening, aktivitas penjuluran ke batang otak bawah dapat menyebabkan mual dan muntah-muntah.
       Sambungan-sambungan turmenarik adalah yang menuju ke nukleus-nukleus saraf kranial yang mengendalikak otot mata. Sistem vestibular memberikan kontrol langsung terhadap gerakan mata untuk mengompensasi gerakan kepala yang mendadak atau yang disebut  refleks vestibula okular.
D. SEMATOSENSORI
                Sematosensori menyediakan informasi mengenai proses yang sedang terjadi di permukaan tubuh dan didalamnya. Indra kutan (indra kulit) mencakup sejumlah submodalitas yang secara umum disebut sentuhan. Propriosepsi dan kinestesia memberikan informasi mengenai posisi dan gerakan tubuh. Indra-indra organik berasal dari reseptor-reseptor di dalam disekililing organ-organ internal. Oleh karena itu, indra ktan adalah sematosensori yang paling banyak dipelajari baik secara perseptual maupun fisiologis.
            1. Stimulus
           
            Indra indra kutan merespons terhadap bebrapa jenis stimulus berbeda: tekanan, getaran, panas, dingin dan peristiwa yang menyebabkan kerusakan jaringan. Rasa tekanan disebabkan oleh deformasi mekanis pada kulit. Getaran dihasilkan di laboratorium atau klinik dengan garpu tala atau alat mekanis, tetapi lebih sering terjadi sewaktu kita menggerakan jari pada permukaan kasar. Sedangkan sensai panas dan dingin dihasilkan oleh benda-benda yang menaikkan dan menurunkan suhu kulit dari normal. Rasa nyeri disebabkan oleh banyak jeis stimulus berbeda, tetapi tampaknya sebagian besar menyebabkan setidaknya sedikit kerusakan  jaringan.
            Salah satu sumber kinestersia adalah reseptor rentangan yang ditentukan di otot-otot rangka, yang melaporkan perubahan panjang oto ke sistem saraf pusat.sumber terpenting umpan balik kinestetik tampaknya berasal dari reseptor-reseptor yang merespons terhadap perubahan dalam pertentangan kulit selama gerakan sendi atau oto itu sendiri, misalnya yang ada di wajah (Johansson dan Flanagan, 2009)
           
2. Anatomi Kuli dan Organ- organ Reseptifnya
           
            Kulit adalah organ kompleks dan vital di tubuh organ yang cendrung kita spelekan. Kulit berperan dalam termoregulasi dengan cara menghasilkan keringat sehingga mendinginkan tubuh atau dengan membatasi peredaran darahnya, sehingga mempertahankan panas. Penampakkannya sangat bervariasi diseluruh tubuh mulai dari membran mukus, kulit berambut lebta, sampai kulit mulus tak berambut di telpak tangan dan telapak kaki yang dikenalkan sebagai kulit glabrus. Kulit terdiri atas jaringan subkutan, dermis, dan epidermis serta mengandung berbagai macam reseptor yang tersebar di seluruh lapisan ini. Kulit glabrus mengandung campuran reseptor yang rapat dan kompleks, yang mencerminkan fakta bahwa kita menggunakan telapak tangan dan ajri untuk memegang dan menyentuh bend-benda. Sebaliknya, bagian-bagian lain tubuh kita paling sering berkontak dengan lingkungan secara pasif dengan kata lain benda-benda ini lah yang menyentuhnya.
           
3. Jalur Sematosensoris
           
            Akson-akson sematosensori dari kulit, otot atau organ-organ internal memasuki sistem saraf pusat melalui saraf-saraf tulang belakang. Akson-akson yang terletak diwajah dan kepala terutama masuk melalui saraf trigerminal. Akson-akson yang mengantarkan informasi dari letak yang sangat spesifik, misalnya sentuhan halus, naik melalui kolom dorsal di materi putih urat saraf tulang belakang ke nukleus-nukleus di medula bawah. Akson-aksonmelintasi otak dan naik melalui lemniskus medial ke nukleus- nukleus posterior ventral di talamus, nukleus-nukleus penghantar somatosensasi. Akson-akson dari talamus mejulur kekorteks somatosensoris primer yang sendirinya mejulurkan akson ke somatosensoris sekunder. Disisi lain, akson tersebut mengantarkan informasi yang letaknya kurang jelas, misalnya nyeri dan suhu, membentuk sinapsis dnegan neuron-neuron lain idak lama setelah memasuki urat saraf tulang belakang. Akson-akson ini menyebrang ke sisi satu lagi urat saraf tulang belakang dan naik melalui saluran spinotalamus ke nukleus-nukleus porterior ventral di talamus.
            Korteks somatosensoris ini tersusun membentuk kolom-kolom yang ditemukan oleh Mountcatle (1957) sebelum ditemukan di korteks visual dan auditoris. Dalam satu kolom, neuron-neuron merespons jenis stimulus tertentu yang diberikan ke bagian tertentu tubuh.
E. PENGECAPAN
              1. Stimulus
Indra ini membantu untuk menentukan sifat benda-benda yang masuk kedlam mulut. Agar dapat dirasa, molekul-molekulnya harus terlarut dalam air ludah dan menstimulasi reseptor-reseptor pengecapan di lidah. Zat yang berbeda-bed, maka rasanya berbeda-beda pula. Terdapat beberapa kualitas rasa : pahit, asam, manis, asin, umami dan lainnya. Flavor adalah gabungan antara penghiduan dan pengecapan. Flavor makanan sangat bergantung kepada baunya.
                        Reseptor manis merupakan detektor makan, sebagian besar makanan yang rasanya manis, misalnya buah-buahan dan sejumlah sayuran, aman disantap (Ramirez, 1990). Reseptor asin mendektekdi kebeadaan natrium klorida. Umami, kata bahasa jepang yang berarti ‘ rasa gurih/ enak’mengacu pada rasa monosodium glutamat (MSG). Reseptor umami menyediakan kemampuan untuk merasakan protein, nutrein yang penting. Asam, terasa kecut dan menyebabkan reaksi menhindar. Pahit, nyaris dihindari oleh semua makhluk hidup dan tidak dapat dibuat menajdi lebih baik dengan menambahkan rasa manis.
                        Peneliti menyimpulkan bahwa lemak dapat dirasakan melalui bau dan teksturnya.tetapi, Fukuwatari et al. (2003) menemukan bahwa tikus yang indra penghiduannya dihncurkan tetap menunjukkan kesukaan kepada makanan cair yang mengandung asam lemak. Ketika lemak mencapai lidah, sejumlah molekul terurau menjadi asam lemak akibat kerja enzim sejenis enzim bernama lipase lingual yang ditemukan dekat kuncup pengecap.
2. Anatomi Kuncup Pengecap dan Sel-sel Gustatoris
           
            Lidah, langit-langit mulut, faring dan laring menandung kira-kira 10.00 kuncup pengecap. Sebagian besar organ penerima ini tersusun di sekililing papila, tonjolan-tonjolan kecil di lidah. Papila fungiformis, yang terletak di dua pertiga anterior lidah, mengandung sampai delapan kuncup pengecap, bersamam-sama reseptor untuk tekanan, sentuhan dan suhu. Papila foliata mengandung sampai delapan lipatan paralel diepanjang tiap lipatan belakang lidah. Papila sirkumvalata, tersusun membentuk V terbalik di sepertiga posterior lidah, mengadung kira-kira 250 kuncup pengecap. Kuncup-kuncup pengecap terdiri atas kumpulan dua puluh sampai lima puluh sel reseptor, neuron-neuron khusu yang tersusun agak mirip bilah-bilah buah jeruk.
            Sel-sel reseptor rasa membentuk sinapsis dengan dendrit-dendrit neuron bipolar yang akson-alsonnya menyampaikan informasi gustatoris ke otak melalui saraf-saraf kranial ketujuh, kesembilan dan kesepuluh. Sel-sel reseptor memiliki rentang hidup hanya kira-kira sepuluh hari. Sel tersebut dengan cepat aus karena terpapar langsung ke lingkungan yang cukup keras. Sewaktu mereka perlahan rusak, sel-sel itu digantikan oleh sel-sel yang baru berkembang, dendrit neuron bipolar dipindahkan ke sel yang baru (Beidler, 1970).
           
F. PENGHIDUAN
            Penghiduan (olfaksi), indra kimiawi kedua yang membantu kita mengidentifikasi makanan dan menghindari makanan yang sudah busuk dan tidak cocok untuk dimakan.
           
1. Stimulus
            Stimulus bau terdiri dari zat-zat volatil yang memiliki berat molekul pada kisaran kira-kira 15-300. Semua senyawa berbau merupakan zat terlarut lipid dan bersumber organik.
2. Anatomi Aparatus Olfaktoris
            Sebanyak 6 juta sel reseptor berada didalam dua topok membran mukus ( epitelium elfaktoris). Epitelium olfaktoris terletak di puncak rongga hidung. Sel-sel olfaktoris adalah neuron-neuron bipolar yang badan-badan selnya terletak didalam mukosa olfaktoris yang melapisi lempeng sribriformis, tulang didasar bagian rostralotak. Sel-sel penyokong mengandung enzim-enzim yang menghancurkan molekul-molekul odoran dan karenanya membantu mencegah sel-sel itu merusak sel-sel reseptor olfaktoris. Molekul-molekul bau harus terlarut dalam mukus dan menstimulasi molekul-molekul reseptor pada silia olfaktoris. Mukosa olfaktoris juga mengandung ujung-ujung saraf bebas dari akson-akson saraf trigeminal , ujujng-ujung saraf ini memediasi sensai nyeri yang dapat timbul akibat mengendus-endus zat kimia pengiritasi, misalnya amonia.
            Bulbus olfaktoris terletak di dasar otak pada ujung-ujung saluran olfaktoris serupa tangkai. Masing-masing sel olfaktoris tersebut menjulurkan satu akson tunggal kedalam satu bulbus olfaktoris dan membentuk sinapsis dengan karena mirip miter, atau hiasan kepala upacara yang dikenakan. Sinapsis- sinapsis ini diarborisasi dendrit dan akson kompleks yang disebut glomerulus olfaktoris. Sejumlah akson ini berujung di wilayah-wilayah lain otak depan ipsilateral yang lain menyebrangi otak dan berujung di bulbus olfaktoris kontralateral. Akson saluran olfaktoris menjulur langsung ke amigdala dan dua wilayah korteks limbik. Amigdala menjulurkan informasi olfaktoris ke hipotalamus, koreteks entorinal menjulurkannya ke hipotalamus, sementara korteks piriformis menjulurkannya ke hipotalamus dan ke korteks orbitofrontal melalui nukleus dorsomedial ditalamus (Buck, 1996;Shipley dan Ennis, 1996).
Hipotalamus banyak menerima informasi olfaktoris yang barngkali penting untuk penerimaan atau penolakkan makanan dan untuk kontrol olfaktoris atas proses-proses reproduktif yang termati pada banyak spesies mamalia.
3. Persepsi Bau Spesifik
            Manusia dapat mengenali sampai 10.00 odoran berbeda, sementara hewan dapat mengenali labih banyak lagi (Shepherd, 1994). Para peneliti mendapati bahwa informasi retinotopik dipertahankanoleh sistem visual, informasi tonotopik dipertahankan di sistem auditoris , informasi olfaktopik di pertahankan di sistem olfaktoris. Glomerulus tertentu menerima informasi dari reseptor olfaktoris tertentu ke wilayah-wilayah spesifik dikorteks olfaktoris. Satu odoran tertentu berikatan ke lebih dari satu reseptor . karena glomerulus tertentu menerima informasi dari satu tipe reseptor saja, odoran-odoran berbeda meneghasilkan pola-pola aktivitas berbeda pada dlomerulus yang berbeda-beda. Oleh karena itu, mengenali bau tertentu merupakan persoalan mengenali pola aktivitas tertentu di glomerulus. Pola spasial informasi’olfaktotopik’ dipertahankan dikorteks olfaktoris
G. PENGKODEAN INFORMASI VISUAL DI RETINA
                        Cahaya masuk melalui pupil kemudian difokuskan dengan adanya lensa dan kornea. Kemudian cahaya tersebut diproyeksikan ke retina. Cahaya yang datang dari sisi atas akan diproyeksikan ke retina belahan bawah, sebaliknya cahaya yang datang dari sisi bawah akan di proyeksikan ke retina bagian atas. Retina terdapat sekita 20-125 sel batang yng bereaksi pada cahaya redup. Retina juga memiliki 7 sampai 8 juta sel kerucut.
                        Saraf optik meninggalkan mata, membawa informasi mengenai cahaya ke otak. Chaya ini bergerak lurus, maka stimulus pada area visual kiri tertangkap pada belahan kana retina di kedua mata , dan begitu sebaliknya. Pada otak, disuatu titik yang disebut kiasma optik yang merupakan serabut saraf optif berpisah dan sekitar setengah serabut saraf melintasi bagian tengah otak. Akhrinya, informasi visual yang berasal dari belahan kann kedua retina dialirkan ke bagian kanan lobus oksipital di korteks serebrum, dan informasi visual yng berasal dari belahan iri retina dialirkan ke sisi lobus oksipital. Persimpangan ini berarti bahwa hal yang kita liat disisi kiri area visual tertangkap pada bagian kanan otak dan hal yang kita lihat pad area visual kanan tertangkap pada sisi kiri otak. Kemuadian, informasi diproses dan dikombinasikan ke dalam objek atau suasana yang dapat dikenali dikortek visual.
                        Di dalam retina, reseptor mengirimkan informasi ke sel bipolar dan horizontal. Kedua sel itu melanjutkan informasi ke dalam sel amakrin dan gaglion. Selanjutnya akson genglion tersebu keluar dari bola mata dan bergabung dengan bintik buta. Akson tersebut membentuk saraf optik yang akan membawa informasi dari bagian belakang mata menuju thalamus yaitu Lateral Genuculate Nucleus (LGN). Meuron dari LGN meneruskan visual ke korteks visual primer yang terletak pada lobus okspital bagian otak belakang dan terjadilah persepsi visual.
H. ANALISIS INFORMASI VISUAL: PERAN KORTEKS STRIATA
Korteks striata terdiri dari enam lapisan yang tersusun dalam pita-pita yang paralel dengan permukaan. Lapisan ini mengandung nukleus badan sel dan pohon dendrit yang tampak sebagai pita terang atau gelap pad irisan-irisan jaringan yang telah diwarnai dngan pewarna badan sel. Korteks striata mengandung peta separuh kontralateral medan visual. Peta itu terdistorsi kira-kira 25 persen korteks srtiata dikhususkan untuk analisis informasi dari fovea, yang mempresentasikan sebagian kecil medan visual.
Kebanyakan neuron di korteks striata peka terhadap orientasi. Bila suatu garis atau tepian berada dalam medan reseptif sel dan diputar mengelilingi pusatnya, sel akan merespons hanya bila garis itu pada posisi tertentu. Sejumlah neuron peka orientasi memiliki medan resptif yang terorganisasi secara berlawanan. Hubel dan Wiesel menyebutnya sebagai sel-sel sederhana. Satu tipe sel lain yang disebut peneliti sebagai sel kompleks yag juga merespons paling baik terhadap garis dengan orientasi tertentu. Artinya, neuron tersebut terus merespons sementara garis itu digerakkan didalam medan reseptif. Neuron juga bertindak sebagai pendeteksi gerakan, serta sel-sel kompleks merespons sama baiknya terhadap garis putih pada latar hitam maupun garis hitam terhadap latar putih. Sel-sel hiperkompleks merespons terhadap garis-garis berorientasi tertentu, tetapi memiliki wilayah hambatan pada ujung garis yng berarti sel-sel itu mendeteksi lokasi ujung-ujung gariss berorientasi tertentu.
Kebanyakan neuron dikorteks striata merespons paling baik ketika kisi-kisi gelombang sinus dengan frekuensi spasial tertentu ditempatkan pada bagian medan visual yang sesuai. Neuron-neuron berbeda mendeteksi frekuensi spasial yang berbeda-beda juga.
I. ANATOMI INFORMASI VISUAL: PERAN KORTEKS ASOSIASI VISUAL
            Informasi dari modul-modul individual ini harus digabung di korteks asosiasi visual. Informasi visual yang diterima dari korteks striata ini dianalisis dikorteks asosiasi visual. Neuron-neuron dari korteks striata menjulurkan akson ke korteks ekstrastriata, wilayah korteks asosiasi visual yang mengelilingi koretks striata. Korteks eksrtastriata terdiri dari satu atau lebih peta mandiri medan visual. Masing-masing wilayah terspesialisasi, mengandung neuron-neuron yang merespons fitur-fitur tertentu dari informasi visual, misalnya orientasi, pergerakan, frekuensi spasial, disparitas retina, atau warna. Wilayah-wilayah di korteks visual tersusun secara hierarkis, dimulai dengan korteks striata.  Hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli menunjukan bahwa sebuah fenomena yang ada karena informasi yang mengikuti jalur-jalus yang menaiki hierarki dari wilayah-wilayah korteks asosiasi visual kembali ke korteks striata.
            Korteks asosiasi visual terbagi menjadi dan jalur, menurut penelitian korteks asosiasi visual mengandung dua aliran analisi: aliran dorsal dan aliran ventral. Aliran dorsal memilik fungsi yaitu menyediakan informasi visual yang memandu navigasi dan gerakan terampil yang diarahkan menuju objek, sedangkan aliran ventral menyediakan informasi visual mengenai ukuran, bentuk, warna, dan tekstur objek.


BAB III. PENUTUPAN
A.    KESIMPULAN
    Pendengaran merupakan salah satu indera yang sangat penting bagi manusia. Tanpa adanya alat pendengaran, manusia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan orang lain dan tidak bisa memaham nya. Pendengaran terjadi karena adanyaa stimulus-stimulus yang berperan dalan sistem pendengaran manusia. Telinga dibagai menjadi tiga bagian, yaitu: Telinga Bagian Luar, Bagian Tengah,Telinga Bagian Dalam.



0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda